konseling kelompok


TUGAS RESUME
TAHAP TRANSISI PADA PROSES KELOMPOK
(Dalam Buku “Konsep Dasar dan Prosedur Pendekatan Kelompok”)
Diajukan Dalam Rangka Memenuhi Tugas Mata Kuliah Konseling Kelompok

Description: D:\PROPOSAL\LOGO\IAII.TIF


Oleh
Muhammad Hasyim Asy’ary, Muh. Irbad Hananu
dan Syafa’atul Abrori


DOSEN :
SAMSUL ARIFIN, S.AG, M.PD.



FAKULTAS DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM IBRAHIMY
SUKOREJO SITUBONDO
2018
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI........................................................................................................ 1
A.    Karakteristik-Karakteristik dalam Tahap Transisi ......................................... 2
B.     Berhadapan dengan Perilaku Membela Diri Secara Terapetik ...................... 7
C.     Berhadapan dengan Trasfernce dan Countertransference............................. 7
D.    Kepemimpinan Efektif .................................................................................. 8
E.     Dukungan VS Konfrontasi............................................................................ 8
F.      Panduan Untuk Menciptakan Hubungan Yang Terapetik Dengan Anggota Kelompok 8
G.    Beberapa Persoalan Berkaitan dengan Asisten Pemimpin (Co-Leader) dalam Tahap Transisi   10


















TAHAP TRANSISI PADA PROSES KELOMPOK

Tahap transisi adalah tahap dimana pemimpin dan anggota kelompok mempunyai peranan yang penting dan saling mempengaruhi satu sama lain. Pada tahap transisi ini, dalam kelompok muncul tanda-tanda umum yangmenyertai antara lain kegelisahan atau ketakutan, pembelaan diri, penolakan atau perlawanan, berbagai masalah pengendalian konflik, konflik antar anggota, tantangan konflik dengan pemimpin dan berbagai pola perilaku yang bermasalah.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam tahap transisi. Hal-hal tersebut ialah sebagai berikut.
A.    Karakteristik-Karakteristik dalam Tahap Transisi
Beberapa karakteristik yang dapat kita kenali dalam tahap transisi ini adalah sebagai berikut.
1.      Kecemasan
Kecemasan sering terjadi pada tahap ini. Kecemasan pun berhubungan dengan beberapa ketakutan seperti: ketakutan menangani emosi, kesalah pahaman, dan tidak tahu apa yang diharapkan. Saling percaya antara anggota kelompok akan berdampak pada kesedian mereka dalam membagikan hal-hal apa yang menjadi perhatian mereka. Keterbukaan yang terjadi dalam kelompok dapat membantu mengurangi kecemasan anggota kelompok.
2.      Membangun Kepercayaan
Selama tahap transisi anggota kelompok masih bertanya-tanya apakah kelompok itu merupakan tempat yang aman bagi mereka. Dalam iklim kpercayaan yang diciptakan atau dibangun secara bertahap, anggota kelompok dapat mengekspresikan reaksi mereka tanpa perasaan takut dicela atau dihakimi.
Tanda-tanda yang menunjukan kurangnya kepercayaan dalam kelompok antara lain tidak berinisiatif untuk bekerja atau terlibat; membuat alasan-alasan untuk tidak berpartisipasi; sangat ragu-ragu dalam mengekspresikan dirinya sendiri; menyimpan reaksi-reaksi mereka untuk diri mereka sendiri; berlindung dalam cerita atau terlalu sering diam.
Oleh karena itu, tugas utama kita dalam tahap transisi adalah terus mendorong para anggota kelompok untuk dapat mengatakan dengan lantang tentang apa yang mereka pikirkan dan rasakan berkaitan dengan apa yang terjadi dalam kelompok.
3.      Pembelaan Diri dan Perlawanan
Berdasarkan sudut pandang psikoanalisa, perlawanan adalah penegasan dari seorang individu dalam menunjukan keengganan untuk membawa diri kembali pada kesadaran yang mengancam yang pernah ditekan atau ditolak sebelumnya.
Secara lebih luas, perlawanan dilihat sebagi prilaku yang menjaga kita dari penelidikan konflik-konflik personal atau perasaan  yang menyakitkan.
Menghargai sikap pembelaan diri artinya pemimpin kelompok tidak menghukum anggota kelompok yang enggan tetapi menyelidiki sumber dari keenganan yang ada.
Gaya pertahanan diri dapat ditunjukan dengan berbagai cara antara lain melalui konflik, besikap objektif, curiga, menikmati, namun perasaan takut semakin dekat dan rentan secara tersirat. Jika pemimpin kelompok dapat menunjukan kesedian untuk mengeksplorasi dan memahami perilaku resistif, maka kelompok kemungkinan besar akan mengalami kemajuan. Cara terbaik yang dapat dilakukan oleh pemimpin dalam menangani perilaku yang sulit adalah menjelaskan dengan sederhana kepada anggota tentang apa yang mereka sedang amati dan membiarkan mereka mengetahui bagaimana dampak yang akan diterima dari apa yang mereka lihat dan dengar.
4.      Pengalaman-Pengalaman Ketakutan Umum pada Anggota Kelompok
Ketakutan-ketakutan umum yang muncul antara lain: terlihat bodoh di depan anggota kelompok lain; ketakutan pada penolakan; ketakutan akan kekosongan; ketakutan kehilangan control; dan ketakutan pada penyingkapan diri.
Apabila dalam tahap transisi ini kepemimpinan anda mampu mencitakan iklim kepercayaan untuk anggota kelompok dapat menyatukan ketakutan-ketakutan tersebut, maka ini akan menjadi dasar yang baik untuk membangun kepercayaan yang lebih lagi dalam proses kelompok selanjutnya.
5.      Pergumulan-Pergumulan dalam Penguasaan Diri
Tugas yang perlu dilakukan oleh pemimpin kelompok dalam merespon berbagai pernyataasn yang muncul seperti “saya tidak mau bicara. Saya ingin mendengar dan memperhatikan saja”; saya merasa berbeda dengan yang lain”; “saya akan terlihat lemah kalau saya menyatakan perasaan saya” adalah menolong anggota kelompok untuk memahami pergumulan mereka bahwa dalam mengatur penguasaan kendali diri dapat menjadi cara untuk melindungi diri mereka sendiri dari keterlibatan yang lebih dalam pada proses kelompok.
6.      Konflik
Asumsi mengatakan bahwa saat terjadi konflik, itu merupakan suatu pertanda bahwa ada sesuatu hal yang salah dan perlu dihindari dari semua harga yang harus dibayar.
Konflik dalam kelompok dapat muncul karena tidak adanya pemahaman terhadap perbedaan yang muncul dalam kelompok seperti perbedaan usia, jenis kelamin, bahasa, orientasi seksual, status sosial ekonomi, ketidakmampuan, bangsa, etnik dan jenjang pendidikan. Setiap konflik yang muncul karena ketidak berhasilan dalam memahami dan menghargai perbedaan yang ada dari setiap anggota kelompok harus ditangani secara terbuka dan dijalani jika iklim kepercayaan telah dibangun. Dengan demikian menjadi tugas awal dari seorang pemimpin untuk mengajarkan anggota kelompok tentang nilai atau pandangan bahwa dengan bekerja melalui konflik yang ada merupakan cara yang bersifat membangun.
7.      Konfrontasi
Ada beberapa panduan yang dapat dipelajari untuk menyampaikan konfrontasi yang tepat dan bertanggung jawab, yaitu: anggota kelompok dan pemimpin mengetahui alasan mengapa mereka menyampaikan konfrontasi; konfrontasi bukan suatu pernyataan yang dokmatik tentang siapa atau apa dari orang tersebut; orang yang dikonfrontasi akan tidak membela diri jika diberi tahu tentang dampak dari apa yang mereka lakukan kepada orang lain daripada hanya diberikan label atau dihakimi; konfrontasi akan menjadi efektif apabila fokus pada sutau hal yang spesifik dan merupakan perilaku yang diamati; salah satu tujuan dari konfrontasi adalah untuk membangun kedekatan dan ketulusan dalam hubungan dengan orang lain; kepekaan merupakan unsur yang penting dalam konfrontasi yang efektif; konfrontasi memberikan orang lain kesempatan untuk merefleksikan umpan balik yang mereka terima sebelum mereka diharapkan merespon atau bertindak atas umpan balik tersebut; konfrontasi berarti membawa klien menyadari alternatif perspektif; dan orang yang menyampaikan konfrontasi hendaknya bertanya atau meminta pada diri sendiri untuk bersedia melakukan hal yang sama seperti yang telah disampaikannya pada orang lain untuk melakukannya.
8.      Tantangan terhadap pemimpin kelompok
Selama tahap transisi mereka dihadapkan pada permasalahan yang berhubngan dengan profesionalitas dan kpribadian. Pemimpin kelompok dapat menjadi contoh yang baik jika dapat menanggapi dengan terbuka daripada menghindar dengan melakukan perlawanan. Jika para pemimpin kelompok sering sensitif pada kritik dan menjadi rentan terhadap ego, mereka akan kemungkinan besar memiliki tantangan secara personal, yang berdampak pada kefektifan mereka.
9.      Reaksi pemimpin kelompok dalam prilaku bertahan/membela
Cara yang paling ampuh untuk intervensi keika pemimpin kelompok mengalami perasaan yang kuat diatas apa yang dirasakan sebagai keadaan membela diri adalah berhadapan dengan perasaan diri sendiri terhadap situasi tersebut. Jika pemimpin mengabaikan atau mengesampingkan reaksi yang muncul, berarti pemimpin sedang membiarkan diri sendiri keluar dari interaksi-interaksi yang terjadi dalam kelompok. Keika pemimpin kelompok mampu membagikan atau mengutarakan apa yang dia rasakan dan pikirkan tentang apa saja yang terjadi di dalam kelompok, berarti pemimpin kelompok sedang membiarkan anggota kelompok mengalami kejujuran dan mengmbangun interaksi yang bersifat konstruktif dengan dirinya.
10.  Prilaku-prilaku bermasalah dan anggota kelompok yang sulit
Terkadang anggota kelompok menjadi sulit karena perilaku meragukan dari pemimpin kelompok. Namun, sekalipun dalam kelompok yang pemimpin kelompoknya sangat efektif dalam melakukan intervensi, anggota kelompok memiliki potensi untuk menunjukan perilaku bermasalah/meragukan yang merupakan sumber dari kesulitan bagi diri mereka sendiri, anggota lain dan pemimpin kelompok.
Ada beberapa intervensi yang bisa dilakukan oleh pemimpin kelompok agar efektif dalam menghadapi perilaku yang sulit, antara lain: jangan menolak klien; nyatakan kesulitan yang dihadapi kepada anggota tanpa mencemarkan karakter atau sifat pribadi tersebut; hindari untuk meresponi sindiran dangan sindiran; didik anggota kelompok tentang bagaimana kerja kelompok tersebut; jujur pada anggota kelompok berkaitan dengan proses kelompok; dorong anggota kelompok untuk mereka mengeksplorasi pembelaan diri mereka daripada menuntut mereta untuk meyerah pada sikap tersebut untuk melindungi diri mereka sendiri; tunjukan kepekaan terhadap budaya yang ada pada anggota kelompok dan hindari sikap stereotip; mawas terhadap reaksi countrertransference yang muncul; seimbang antara pemberian dukungan dan tantangan; jangan mundur dari konflik; jangan menanggapi anggota secara personal dan fokus pada mengeksplorasi masalah dibandingkan dengan pemberian solusi-solusi singkat.
Beberapa prilaku bermasalah yang muncul antara lain diam dan  tidak mau berpartisipasi, perilaku yang memonopoli, suka bercerita, suka bertanya, memberikan nasehat, ketergantungan, memberikan dukungan yang pura-pura, perilaku bermusuhan, berlaku sombong. Perilaku bermasalah lainnya yang muncul adalah adanya anggota kelompok yang bertindak atau mengambil peran sebagai asisten bagi pemimpin, memberikan pertanyaan, menyelediki informasi dan memberikan perhatian pada dinamika yang terjadi dalam kelompo
B.     Berhadapan dengan Perilaku Membela Diri Secara Terapeutik
Intervensi yang tepat dalam menghadapi perilaku yang bermasalah dapat membantu anggota kelompok dalam mengungkapkan apa yang mereka pikirkan dan rasakan secar terapetik, sehingga dapat membawa mereka berpartisipasi lebih aktif lagi dalam kelompok. Pemimpin kelompok diharapkan mampu menanggapi secara penuh dukungan terhadap anggota kelompok untuk menyatakan lebih banyak tentang keadaan diri mereka sendiri. Pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya terbuka dapat menjadi cara mengundang anggota kelompok untuk berespon.
C.    Berhadapan dengan Trasfernce dan Countertransference
Trasfernce adalah kondisi dimana anggota kelompok memproyeksikan perasaan yang ada padanya kepada pemimpin kelompok. sedangkan Countertransference adalah perasaan yang timbul dalam diri pemimpin kelompok akibat apa yang dirasakan oleh anggota kelompok.
Saat kita sadari kemungkinan untuk terjadinya trasfernce atau countertransference, terdapat tiga cara tambahan yang perlu diperhatikan:
1.      Jangan terlalu kritis percaya pada apa yang disampaikan anggota kelompok kepada kita, terutama sekali yang disampaikan di awal. Hindari untuk terbawa dengan atribut-atribut yang tidak realistik yang diberikan oleh anggota kelompok.
2.      Hindari untuk terlalu mengupas secara kritik dan mengabaikan kesunguhan umpan balik yang positif.
3.      Mengenal bahwa tidak semua perasaan kita terhadap anggota kelompok dikelompokkan sebagai countertransference. Countertransference dapat diindikasikan oleh perasaan yang berlebihan dan gigih cenderung terulang dengan berbagai macam anggota kelompok dalam berbagai macam kelompok.
D.    Kepemimpinian Efektif
Dalam tinjauan terhadap literatur hubungan yang terapetik dalam proses kelompok, diidentifikasi terdapat tiga kunci yang dapat membangun hubungan yang terapetik dalam proses kelompok, yaitu: iklim kelompok, keterpaduan, dan kesatuan. Penelitian yang dilakukan oleh Burlingame dan fuhriman (1990) menghasilkan bahwa hubungan yang positif yang terjadi antara therapis dan klien memberikan kontribusi yang positif bagi perubahan diri klien.
E.     Dukungan VS Konfrontasi
Tempaan yang dapat membuat kelompok yang efektif mencakup pencapaian pada kesempatan untuk menyeimbangkan antara dukungan dan konfrontasi. Dies (1983b) menyarankan agar pemimpin kelompok tidak terlalu capat menunjukan konfrontasi yang kuat sampai pada waktu yang tepat dengan terlebih dahulu membangun hubungan kepercayaan dengan anggota kelompok.
Konfrontasi mendukung terlebih telah terjadi dari tahap pengenalan dalam kelompok dan dapat terselesaikan dengan kepekaan dan penghargaan. Dalam kenyataan, fondasi dari kepercayaan seringkali menjadi utuh oleh konfrontasi yang mengandung kepedulian, yang dilakukan oleh pemimpin kelompok.
F.     Panduan Untuk Menciptakan Hubungan Yang Terapetik Dengan Anggota Kelompok
Ada beberpa panduan untuk membantu kepimipinan dapat berjalan dengan baik.
1.      Berjuang untuk keterlibatan yang positif dalam kelompok melalui kesungguhan, empati, dan reaksi yang peduli terhadap anggota kelompok.
2.      Bangun gaya kareakteristik terapetik yang terbuka dengan menyediakan dan memberi kemudahan penyingkapan diri.
3.      Tanamkan dalam pikiran bahwa penyingkapan diri dari pemimpin kelompok dapat memberikan dampak konstruktif atau merugikan dalam proses kelompok dan hasil yang didapatkan; bergantung pada beberapa faktor khusus seprti tipe kelompok, tahapan perkembangan, serta isi dan sikap dari penyingkapan.
4.      Bantu anggota kelompok untuk mampu memanfaatkan secara maksimal dari keefektifan contoh atau panutan.
5.      Perlengkapi dengan stuktur yang memadai, namun hindari gaya kepemimpinan yang mengambil semua kendali
6.      Perlengkapi dengan berbagai kesempatan untuk semua anggota kelompok agar dapat menggunakan semaksimal mungkin semua sumber dalam kelompok dengan mengajarkan mereka kemampuan berpartisipasi aktif dalam proses kelompok.
7.      Tunjukan kepedulian dengan bersedia untuk berkonfrontasi dengan anggota kelompok, namun lakukan dengan sikap yang memberikan anggota kelompok contoh yang baik dari bagaimana berkonfrontasi dengan kepekaan.
8.      Lengkapi dan perkuat aturan-aturan yang jelas sebagai cara untuk menjaga keterpaduan dalam kelompok.
9.      Lakukan intervensi ketika ada seorang anggota kelompok yang mencegah anggota kelompok lainnya untuk menggunakan sumber yang ada dengan cara melibatkan konfrontasi yang tidak membangun, sarkasme, dan menukar secara tidak langsung. Bantu anggota kelompok untuk sepakat satu dan lainnya secara langsung dan membangun.

G.    Beberapa Persoalan Berkaitan dengan Asisten Pemimpin (Co-Leader) dalam Tahap Transisi
Ada beberapa masalah yang muncul antara pemimpin pada tahap ini:
1.      Reaksi negatif terhadap satu pemimpin. Jika anggota kelompok langsung menunjukan ekspresi negatif dan menantang terhadap asisten, ini merupakan hal yang perlu dihindari baik dengan cara pemimpin kelompok berpihak pada asisten untuk menyerang anggota kelompok atau berdampingan dengan anggota kelompok untuk melawan asisten.
2.      Tantangan untuk kedua pemimpin kelompok. Dalam kasus seperti ini, kesulitan akan terjadi jika salah satu dari pemimpin kelompok berespon membela diri ketika yang lain bersedia untuk berhadapan dengan konfrontasi yang diberikan oleh anggota kelompok.
3.      Berurusan dengan perilaku yang bermaslah. Pemimpin dan asisten pemimpin kelompok perlu mendiskusikan perilaku-perilaku bermasalah yang muncul yang pemimpin kelompok dan asisten perlu dikonfrontasi.
4.      Berurusan dengan countertransference. Suatu hal yang tidak realistis jika mengharapkan pemimpin kelompok dapat bekerja secara efektif kepada semua anggota. Pada saat tertentu, ketidakefektifan terjadi merupakan hasil dari reaksi countertransference yang dilakukan oleh salah satu pemimpin.

Comments