konseling kelompok
TUGAS RESUME
TAHAP
TRANSISI PADA PROSES KELOMPOK
(Dalam Buku
“Konsep Dasar dan Prosedur Pendekatan Kelompok”)
Diajukan
Dalam Rangka Memenuhi Tugas Mata Kuliah Konseling
Kelompok

Oleh
Muhammad Hasyim Asy’ary, Muh.
Irbad Hananu
dan
Syafa’atul Abrori
DOSEN :
SAMSUL ARIFIN, S.AG, M.PD.
FAKULTAS
DAKWAH
INSTITUT
AGAMA ISLAM IBRAHIMY
SUKOREJO
SITUBONDO
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI........................................................................................................ 1
A.
Karakteristik-Karakteristik
dalam Tahap Transisi ......................................... 2
B.
Berhadapan
dengan Perilaku Membela Diri Secara Terapetik ...................... 7
C.
Berhadapan
dengan Trasfernce dan Countertransference............................. 7
D.
Kepemimpinan
Efektif .................................................................................. 8
E.
Dukungan VS
Konfrontasi............................................................................ 8
F. Panduan Untuk Menciptakan Hubungan Yang Terapetik Dengan Anggota Kelompok 8
G. Beberapa Persoalan Berkaitan dengan Asisten Pemimpin (Co-Leader) dalam Tahap
Transisi 10
TAHAP TRANSISI PADA PROSES KELOMPOK
Tahap transisi adalah tahap dimana pemimpin dan anggota kelompok mempunyai
peranan yang penting dan saling mempengaruhi satu sama lain. Pada tahap
transisi ini, dalam kelompok muncul tanda-tanda umum yangmenyertai antara lain
kegelisahan atau ketakutan, pembelaan diri, penolakan atau perlawanan, berbagai
masalah pengendalian konflik, konflik antar anggota, tantangan konflik dengan
pemimpin dan berbagai pola perilaku yang bermasalah.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam tahap transisi. Hal-hal tersebut
ialah sebagai berikut.
A. Karakteristik-Karakteristik dalam Tahap Transisi
Beberapa karakteristik yang dapat kita kenali dalam tahap transisi ini
adalah sebagai berikut.
1. Kecemasan
Kecemasan sering terjadi pada tahap ini. Kecemasan pun berhubungan dengan
beberapa ketakutan seperti: ketakutan menangani emosi, kesalah pahaman, dan
tidak tahu apa yang diharapkan. Saling percaya antara anggota kelompok akan
berdampak pada kesedian mereka dalam membagikan hal-hal apa yang menjadi
perhatian mereka. Keterbukaan yang terjadi dalam kelompok dapat membantu
mengurangi kecemasan anggota kelompok.
2. Membangun Kepercayaan
Selama tahap transisi anggota kelompok masih bertanya-tanya apakah kelompok
itu merupakan tempat yang aman bagi mereka. Dalam iklim kpercayaan yang
diciptakan atau dibangun secara bertahap, anggota kelompok dapat
mengekspresikan reaksi mereka tanpa perasaan takut dicela atau dihakimi.
Tanda-tanda yang menunjukan kurangnya kepercayaan dalam kelompok antara
lain tidak berinisiatif untuk bekerja atau terlibat; membuat alasan-alasan
untuk tidak berpartisipasi; sangat ragu-ragu dalam mengekspresikan dirinya
sendiri; menyimpan reaksi-reaksi mereka untuk diri mereka sendiri; berlindung
dalam cerita atau terlalu sering diam.
Oleh karena itu, tugas utama kita dalam tahap transisi adalah terus
mendorong para anggota kelompok untuk dapat mengatakan dengan lantang tentang apa
yang mereka pikirkan dan rasakan berkaitan dengan apa yang terjadi dalam
kelompok.
3. Pembelaan Diri dan Perlawanan
Berdasarkan sudut pandang psikoanalisa, perlawanan adalah penegasan dari
seorang individu dalam menunjukan keengganan untuk membawa diri kembali pada
kesadaran yang mengancam yang pernah ditekan atau ditolak sebelumnya.
Secara lebih luas, perlawanan dilihat sebagi prilaku yang menjaga kita dari
penelidikan konflik-konflik personal atau perasaan yang menyakitkan.
Menghargai sikap pembelaan diri artinya pemimpin kelompok tidak menghukum
anggota kelompok yang enggan tetapi menyelidiki sumber dari keenganan yang ada.
Gaya
pertahanan diri dapat ditunjukan dengan berbagai cara antara lain melalui
konflik, besikap objektif, curiga, menikmati, namun perasaan takut semakin
dekat dan rentan secara tersirat. Jika pemimpin kelompok dapat menunjukan
kesedian untuk mengeksplorasi dan memahami perilaku resistif, maka kelompok
kemungkinan besar akan mengalami kemajuan. Cara terbaik yang dapat dilakukan
oleh pemimpin dalam menangani perilaku yang sulit adalah menjelaskan dengan
sederhana kepada anggota tentang apa yang mereka sedang amati dan membiarkan
mereka mengetahui bagaimana dampak yang akan diterima dari apa yang mereka
lihat dan dengar.
4. Pengalaman-Pengalaman Ketakutan Umum pada Anggota Kelompok
Ketakutan-ketakutan umum yang muncul antara lain: terlihat bodoh di depan
anggota kelompok lain; ketakutan pada penolakan; ketakutan akan kekosongan;
ketakutan kehilangan control; dan ketakutan pada penyingkapan diri.
Apabila dalam tahap transisi ini kepemimpinan anda mampu mencitakan iklim
kepercayaan untuk anggota kelompok dapat menyatukan ketakutan-ketakutan
tersebut, maka ini akan menjadi dasar yang baik untuk membangun kepercayaan
yang lebih lagi dalam proses kelompok selanjutnya.
5. Pergumulan-Pergumulan dalam Penguasaan Diri
Tugas yang perlu dilakukan oleh pemimpin kelompok dalam merespon berbagai
pernyataasn yang muncul seperti “saya tidak mau bicara. Saya ingin mendengar
dan memperhatikan saja”; saya merasa berbeda dengan yang lain”; “saya akan
terlihat lemah kalau saya menyatakan perasaan saya” adalah menolong anggota
kelompok untuk memahami pergumulan mereka bahwa dalam mengatur penguasaan
kendali diri dapat menjadi cara untuk melindungi diri mereka sendiri dari
keterlibatan yang lebih dalam pada proses kelompok.
6. Konflik
Asumsi mengatakan bahwa saat terjadi konflik, itu merupakan suatu pertanda
bahwa ada sesuatu hal yang salah dan perlu dihindari dari semua harga yang
harus dibayar.
Konflik dalam kelompok dapat muncul karena tidak adanya pemahaman terhadap
perbedaan yang muncul dalam kelompok seperti perbedaan usia, jenis kelamin,
bahasa, orientasi seksual, status sosial ekonomi, ketidakmampuan, bangsa, etnik
dan jenjang pendidikan. Setiap konflik yang muncul karena ketidak berhasilan
dalam memahami dan menghargai perbedaan yang ada dari setiap anggota kelompok
harus ditangani secara terbuka dan dijalani jika iklim kepercayaan telah
dibangun. Dengan demikian menjadi tugas awal dari seorang pemimpin untuk
mengajarkan anggota kelompok tentang nilai atau pandangan bahwa dengan bekerja
melalui konflik yang ada merupakan cara yang bersifat membangun.
7. Konfrontasi
Ada beberapa panduan yang dapat dipelajari untuk menyampaikan konfrontasi
yang tepat dan bertanggung jawab, yaitu: anggota kelompok dan pemimpin
mengetahui alasan mengapa mereka menyampaikan konfrontasi; konfrontasi bukan
suatu pernyataan yang dokmatik tentang siapa atau apa dari orang tersebut;
orang yang dikonfrontasi akan tidak membela diri jika diberi tahu tentang
dampak dari apa yang mereka lakukan kepada orang lain daripada hanya diberikan
label atau dihakimi; konfrontasi akan menjadi efektif apabila fokus pada sutau
hal yang spesifik dan merupakan perilaku yang diamati; salah satu tujuan dari
konfrontasi adalah untuk membangun kedekatan dan ketulusan dalam hubungan
dengan orang lain; kepekaan merupakan unsur yang penting dalam konfrontasi yang
efektif; konfrontasi memberikan orang lain kesempatan untuk merefleksikan umpan
balik yang mereka terima sebelum mereka diharapkan merespon atau bertindak atas
umpan balik tersebut; konfrontasi berarti membawa klien menyadari alternatif
perspektif; dan orang yang menyampaikan konfrontasi hendaknya bertanya atau
meminta pada diri sendiri untuk bersedia melakukan hal yang sama seperti yang
telah disampaikannya pada orang lain untuk melakukannya.
8. Tantangan terhadap pemimpin kelompok
Selama tahap transisi mereka dihadapkan pada permasalahan yang berhubngan
dengan profesionalitas dan kpribadian. Pemimpin kelompok dapat menjadi contoh
yang baik jika dapat menanggapi dengan terbuka daripada menghindar dengan
melakukan perlawanan. Jika para pemimpin kelompok sering sensitif pada kritik dan
menjadi rentan terhadap ego, mereka akan kemungkinan besar memiliki tantangan
secara personal, yang berdampak pada kefektifan mereka.
9. Reaksi pemimpin kelompok dalam prilaku bertahan/membela
Cara yang paling ampuh untuk intervensi keika pemimpin kelompok mengalami
perasaan yang kuat diatas apa yang dirasakan sebagai keadaan membela diri
adalah berhadapan dengan perasaan diri sendiri terhadap situasi tersebut. Jika
pemimpin mengabaikan atau mengesampingkan reaksi yang muncul, berarti pemimpin
sedang membiarkan diri sendiri keluar dari interaksi-interaksi yang terjadi
dalam kelompok. Keika pemimpin kelompok mampu membagikan atau mengutarakan apa
yang dia rasakan dan pikirkan tentang apa saja yang terjadi di dalam kelompok,
berarti pemimpin kelompok sedang membiarkan anggota kelompok mengalami
kejujuran dan mengmbangun interaksi yang bersifat konstruktif dengan dirinya.
10. Prilaku-prilaku bermasalah dan anggota kelompok yang sulit
Terkadang anggota kelompok menjadi sulit karena perilaku meragukan dari
pemimpin kelompok. Namun, sekalipun dalam kelompok yang pemimpin kelompoknya
sangat efektif dalam melakukan intervensi, anggota kelompok memiliki potensi
untuk menunjukan perilaku bermasalah/meragukan yang merupakan sumber dari
kesulitan bagi diri mereka sendiri, anggota lain dan pemimpin kelompok.
Ada beberapa intervensi yang bisa dilakukan oleh pemimpin kelompok agar
efektif dalam menghadapi perilaku yang sulit, antara lain: jangan menolak
klien; nyatakan kesulitan yang dihadapi kepada anggota tanpa mencemarkan
karakter atau sifat pribadi tersebut; hindari untuk meresponi sindiran dangan
sindiran; didik anggota kelompok tentang bagaimana kerja kelompok tersebut;
jujur pada anggota kelompok berkaitan dengan proses kelompok; dorong anggota
kelompok untuk mereka mengeksplorasi pembelaan diri mereka daripada menuntut
mereta untuk meyerah pada sikap tersebut untuk melindungi diri mereka sendiri;
tunjukan kepekaan terhadap budaya yang ada pada anggota kelompok dan hindari
sikap stereotip; mawas terhadap reaksi countrertransference yang muncul;
seimbang antara pemberian dukungan dan tantangan; jangan mundur dari konflik;
jangan menanggapi anggota secara personal dan fokus pada mengeksplorasi masalah
dibandingkan dengan pemberian solusi-solusi singkat.
Beberapa
prilaku bermasalah yang muncul antara lain diam dan tidak mau berpartisipasi, perilaku yang
memonopoli, suka bercerita, suka bertanya, memberikan nasehat, ketergantungan,
memberikan dukungan yang pura-pura, perilaku bermusuhan, berlaku sombong.
Perilaku bermasalah lainnya yang muncul adalah adanya anggota kelompok yang
bertindak atau mengambil peran sebagai asisten bagi pemimpin, memberikan
pertanyaan, menyelediki informasi dan memberikan perhatian pada dinamika yang
terjadi dalam kelompo
B. Berhadapan dengan Perilaku Membela Diri Secara Terapeutik
Intervensi yang tepat dalam menghadapi perilaku yang bermasalah dapat
membantu anggota kelompok dalam mengungkapkan apa yang mereka pikirkan dan
rasakan secar terapetik, sehingga dapat membawa mereka berpartisipasi lebih
aktif lagi dalam kelompok. Pemimpin kelompok diharapkan mampu menanggapi secara
penuh dukungan terhadap anggota kelompok untuk menyatakan lebih banyak tentang
keadaan diri mereka sendiri. Pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya terbuka dapat
menjadi cara mengundang anggota kelompok untuk berespon.
C. Berhadapan dengan Trasfernce dan Countertransference
Trasfernce adalah kondisi dimana anggota kelompok memproyeksikan perasaan yang ada
padanya kepada pemimpin kelompok. sedangkan Countertransference adalah
perasaan yang timbul dalam diri pemimpin kelompok akibat apa yang dirasakan
oleh anggota kelompok.
Saat kita sadari kemungkinan untuk terjadinya trasfernce atau
countertransference, terdapat tiga cara tambahan yang perlu diperhatikan:
1. Jangan terlalu kritis percaya pada apa yang disampaikan anggota kelompok
kepada kita, terutama sekali yang disampaikan di awal. Hindari untuk terbawa
dengan atribut-atribut yang tidak realistik yang diberikan oleh anggota
kelompok.
2. Hindari untuk terlalu mengupas secara kritik dan mengabaikan kesunguhan
umpan balik yang positif.
3. Mengenal bahwa tidak semua perasaan kita terhadap anggota kelompok
dikelompokkan sebagai countertransference. Countertransference dapat
diindikasikan oleh perasaan yang berlebihan dan gigih cenderung terulang dengan
berbagai macam anggota kelompok dalam berbagai macam kelompok.
D. Kepemimpinian Efektif
Dalam tinjauan terhadap literatur hubungan yang terapetik dalam proses
kelompok, diidentifikasi terdapat tiga kunci yang dapat membangun hubungan yang
terapetik dalam proses kelompok, yaitu: iklim kelompok, keterpaduan, dan
kesatuan. Penelitian yang dilakukan oleh Burlingame dan fuhriman (1990)
menghasilkan bahwa hubungan yang positif yang terjadi antara therapis dan klien
memberikan kontribusi yang positif bagi perubahan diri klien.
E. Dukungan VS Konfrontasi
Tempaan yang dapat membuat kelompok yang efektif mencakup pencapaian pada
kesempatan untuk menyeimbangkan antara dukungan dan konfrontasi. Dies (1983b)
menyarankan agar pemimpin kelompok tidak terlalu capat menunjukan konfrontasi
yang kuat sampai pada waktu yang tepat dengan terlebih dahulu membangun
hubungan kepercayaan dengan anggota kelompok.
Konfrontasi mendukung terlebih telah terjadi dari tahap pengenalan dalam
kelompok dan dapat terselesaikan dengan kepekaan dan penghargaan. Dalam kenyataan,
fondasi dari kepercayaan seringkali menjadi utuh oleh konfrontasi yang
mengandung kepedulian, yang dilakukan oleh pemimpin kelompok.
F. Panduan Untuk Menciptakan Hubungan Yang Terapetik Dengan Anggota Kelompok
Ada beberpa panduan untuk membantu kepimipinan dapat berjalan dengan baik.
1. Berjuang untuk keterlibatan yang positif dalam kelompok melalui
kesungguhan, empati, dan reaksi yang peduli terhadap anggota kelompok.
2. Bangun gaya kareakteristik terapetik yang terbuka dengan menyediakan dan memberi
kemudahan penyingkapan diri.
3. Tanamkan dalam pikiran bahwa penyingkapan diri dari pemimpin kelompok dapat
memberikan dampak konstruktif atau merugikan dalam proses kelompok dan hasil
yang didapatkan; bergantung pada beberapa faktor khusus seprti tipe kelompok,
tahapan perkembangan, serta isi dan sikap dari penyingkapan.
4. Bantu anggota kelompok untuk mampu memanfaatkan secara maksimal dari
keefektifan contoh atau panutan.
5. Perlengkapi dengan stuktur yang memadai, namun hindari gaya kepemimpinan yang
mengambil semua kendali
6. Perlengkapi dengan berbagai kesempatan untuk semua anggota kelompok agar
dapat menggunakan semaksimal mungkin semua sumber dalam kelompok dengan
mengajarkan mereka kemampuan berpartisipasi aktif dalam proses kelompok.
7. Tunjukan kepedulian dengan bersedia untuk berkonfrontasi dengan anggota
kelompok, namun lakukan dengan sikap yang memberikan anggota kelompok contoh
yang baik dari bagaimana berkonfrontasi dengan kepekaan.
8. Lengkapi dan perkuat aturan-aturan yang jelas sebagai cara untuk menjaga
keterpaduan dalam kelompok.
9. Lakukan intervensi ketika ada seorang anggota kelompok yang mencegah
anggota kelompok lainnya untuk menggunakan sumber yang ada dengan cara
melibatkan konfrontasi yang tidak membangun, sarkasme, dan menukar secara tidak
langsung. Bantu anggota kelompok untuk sepakat satu dan lainnya secara langsung
dan membangun.
G. Beberapa Persoalan Berkaitan dengan Asisten Pemimpin (Co-Leader) dalam
Tahap Transisi
Ada beberapa masalah yang muncul antara pemimpin pada tahap ini:
1. Reaksi negatif terhadap satu pemimpin. Jika anggota kelompok langsung
menunjukan ekspresi negatif dan menantang terhadap asisten, ini merupakan hal
yang perlu dihindari baik dengan cara pemimpin kelompok berpihak pada asisten
untuk menyerang anggota kelompok atau berdampingan dengan anggota kelompok
untuk melawan asisten.
2. Tantangan untuk kedua pemimpin kelompok. Dalam kasus seperti ini, kesulitan
akan terjadi jika salah satu dari pemimpin kelompok berespon membela diri
ketika yang lain bersedia untuk berhadapan dengan konfrontasi yang diberikan
oleh anggota kelompok.
3. Berurusan dengan perilaku yang bermaslah. Pemimpin dan asisten pemimpin
kelompok perlu mendiskusikan perilaku-perilaku bermasalah yang muncul yang
pemimpin kelompok dan asisten perlu dikonfrontasi.
4. Berurusan dengan countertransference. Suatu hal yang tidak realistis
jika mengharapkan pemimpin kelompok dapat bekerja secara efektif kepada semua
anggota. Pada saat tertentu, ketidakefektifan terjadi merupakan hasil dari
reaksi countertransference yang dilakukan oleh salah satu pemimpin.
Comments
Post a Comment